Malang - Inilah pertama kali saya ke pantai Bajulmati, sebelumnya sudah banyak teman yang ajak liburan kesana cuma masih banyak kesibukan :-). Akhirnya 15 November 2012 lalu saya punya kesempatan untuk berlibur ke Bajulmati. Pagi hari saya berangkat dengan menggunakan 1 mobil dengan rombongan yang hanya berjumlah 7 orang sekaligus saya dan berangkat dari kost salah satu temen (berhubung saya juga kuliah di Malang).Awalnya kami masih bisa bersenda-gurau saat masih di wilayah perkotaan kota Malang yang udaranya begitu cerah saat itu. Suasana jadi sedikit hening ketika sudah masuk pinggiran kota Malang. Apalagi saat mobil sudah melintasi jalan yang agak menanjak, setelah meninggalkan wilayah Turen. Keheningan kami terpecah karena salah satu diantara kami ada yang mabuk perjalanan. Jalan berkelok-kelok melintasi pinggiran gunung.
Salah satu temen kami yang bertugas mengendalikan sang mobil masih sibuk bergulat dengan setir, mengikuti alur dari jalan yang masih berkelok-kelok. Ditengah perjalanan yang masih berkelok, kami bertemu dengan rombongan lain yang “mungkin” sama tujuan dengan kami. Ada juga komunitas motor yang juga masih diperjalanan di depan kami.
Leganya saat kami sudah sampai di desa sitiharjo. Sudah dekat dengan pantai Bajulmati. Kami sempat bertanya kepada warga kemanakah arah pantai Bajulmati, dikarenakan jalan yang bercabang dan diantara kami belum ada yang pernah kesana. Warga yang kami tanyai sangat ramah sehingga kami diberikan arahan untuk tujuan kami. Sebelum sampai di pantai, kami takjub saat melintas di jembatan Bajulmati. Desain yang begitu menawan menyeberangi sungai yang bermuara ke pantai Bajulmati. Sangat terik siang itu, sehingga kami mengurungkan niat untuk berfoto-foto di jembatan itu. Dan kami langsung melanjutkan perjalan kami ke pantai Bajulmati yang sudah begitu dekat.
Suasana yang penah segera menghilang begitu kami sampai di pintu masuk. Dan kami siap-siap merogoh kantong kami, karena bertuliskan “Rp. 5000,- / Orang”. Yang artinya kami harus membayar Rp. 5000,- untuk masuk ke area pantai. Murahnya untuk menghilangkan penat daripada menghamburkan uang di Mall.
Jam menunjukkan sekitar pukul 12 siang. Kami langsung keluar dari mobil. Begitu segar udaranya. Tapi sinar matahari masih begitu terik. Panas menghalangi kami untuk langsung nyebur ke laut. Apalagi ombak lagi ganas, cukup tinggi dan berbahaya untuk mandi di pantai kali ini. Jadi kami putuskan untuk menyantap makanan yang kami beli di warung makan saat di perjalanan tadi. Masih di atas tikar kami bersantai-santai menatap ke arah pantai.
Begitu panjang bentangan pantainya. Pemandangan yang sungguh membuat fresh. Tapi sayang tidak boleh mandi di pantai. Ingat, ombak masih ganas, datang dari arah laut lepas. Menggulung tinggi. Dan menghantam pantai dan bongkahan karang yang ada. Begitu keras, sehingga suaranya cukup terdengar menderu-deru. Sungguh asyik untuk bersantai di atas tikar.
Sekitar pukul 1 siang, kami melipat tikar dan menuju ke arah pantai. Ombak masih juga tidak bersahabat. Tidak mengijinkan kami untuk mencicipi/berenang di pantai. Akhirnya kami memutuskan ke arah muara. Airnya begitu tenang, warna kehijauan, menarik niat kami untuk nyebur ke situ. Dingin, itu yang kami rasakan saat masuk ke air muara itu. Asin, mungkin salinitasnya masih dipengaruhi oleh air laut. Tak terasa sudah terlalu lama kami bermain-main di muara. Hingga senja sudah menjelang. Waktunya kami berbilas. Kamar mandi umum sangat banyak antriannya, kayaknya banyak sekali pengunjung yang datang hari ini. “Oh iya. Hari ini hari libur, mungkin banyak yang memutuskan untuk berlibur di sini” batin saya. Tidak heran karena pantainya yang cukup indah.
Kami masih mengurungkan niat untuk langsung pulang karena kami masih pengen melihat matahari tenggelam dan terlihat di atas garis horizon. Tapi sayang, mendung menutupi proses tenggelamnya matahari yang kami sudah tunggu-tunggu dari tadi. Kekecewaan kami masih bisa kami singkirkan, kami berfoto-foto dan besendagurau. Kami pun harus pulang. Selamat tinggal Bajulmati.
Salam dari Penulis
0 komentar:
Post a Comment